Beranda > Akhlaq, Manhaj > Islam adalah Agama yang Lembut, Santun dan Penuh Kasih Sayang…TAPI…

Islam adalah Agama yang Lembut, Santun dan Penuh Kasih Sayang…TAPI…

**************************************************************************
Tulisan ini adalah nasehat yang ditujukan kepada saya dan sebagian orang yang sering membawa perkataan “Islam adalah agama yang lembut, santun dan penuh kasih sayang”, akhirnya tidak mau beramar ma’ruf (mengajak kepada kebaikan menurut syariat Islam) atau nahi mungkar (mencegar perkara yang dilarang syari’at Islam), sesuai dengan yang ditunjukkan oleh Al Quran dan As Sunnah serta dipahami oleh para shahabat radhiyallahu ‘anhum.

Tulisan ini adalah nasehat yang ditujukan kepada saya dan sebagian orang yang sering membawa perkataan “Islam adalah agama yang lembut, santun dan penuh kasih sayang”, akhirnya tidak berani membenarkan yang benar dan menyalahkan yang salah sesuai dengan yang ditunjukkan oleh Al Quran dan As Sunnah serta dipahami oleh para shahabat radhiyallahu ‘anhum.

Tulisan ini adalah nasehat yang ditujukan kepada saya dan sebagian orang yang sering membawa perkataan “Islam adalah agama yang lembut, santun dan penuh kasih sayang”, akhirnya menjadi pengecut, tidak berani mengatakan itu salah dan ini benar sesuai dengan yang ditunjukkan oleh Al Quran dan As Sunnah serta dipahami oleh para shahabat radhiyallahu ‘anhum.

بسم الله الرحمن الرحيم, الحمد لله رب العالمين و صلى الله و سلم و بارك على نبينا محمد و آله و صحبه أجمعين, أما بعد:

Memang Islam agama yang memerintahkan kasih sayang, sikap lembut, santun, tidak menyusahkan, tidak membuat orang lari akibat syariatnya …

{ وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ } [الأنبياء: 107]
Artinya: “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam”. QS. Al Anbiya: 107.

Berkata Al ‘Allamah Syeikh Al Mufassir Muhammad Al Amin Asy Syinqithi rahimahullah (w: 1393H):
وَمَا ذَكَرَهُ – جَلَّ وَعَلَا – فِي هَذِهِ الْآيَةِ الْكَرِيمَةِ مِنْ أَنَّهُ مَا أَرْسَلَهُ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالِمِينَ يَدُلُّ عَلَى أَنَّهُ جَاءَ بِالرَّحْمَةِ لِلْخَلْقِ فِيمَا تَضَمَّنَهُ هَذَا الْقُرْآنُ الْعَظِيمُ . وَهَذَا الْمَعْنَى جَاءَ مُوَضَّحًا فِي مَوَاضِعَ مِنْ كِتَابِ اللَّهِ ، كَقَوْلِهِ تَعَالَى : أَوَلَمْ يَكْفِهِمْ أَنَّا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ يُتْلَى عَلَيْهِمْ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَرَحْمَةً وَذِكْرَى لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ [29 \ 51] وَقَوْلِهِ : وَمَا كُنْتَ تَرْجُو أَنْ يُلْقَى إِلَيْكَ الْكِتَابُ إِلَّا رَحْمَةً مِنْ رَبِّكَ الْآيَةَ [28 \ 86] .
وَفِي صَحِيحِ مُسْلِمٍ مِنْ حَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ : قِيلَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، ادْعُ عَلَى الْمُشْرِكِينَ . قَالَ : «إِنِّي لَمْ أُبْعَثْ لَعَّانًا ، وَإِنَّمَا بُعِثْتُ رَحْمَةً» .
Artinya: “Apa yang telah disebutkan Allah Jalla wa ‘Ala di dalam ayat yang mulia ini adalah bahwa Allah Ta’ala tidaklah mengutus beliau (shallallahu ‘alaihi wasallam-pent) kecuali sebagai rahmat untuk alam semesta, yang menunjukkan bahwa beliau datang dengan rahmat untuk seluruh makhluk sebagaimana yang ditunjukkan oleh Al Quran yang Mulia ini.

Dan makna ini telah disebutkan di beberapa tempat dari Kitabullah, seperti firman Allah Ta’ala:
{ أَوَلَمْ يَكْفِهِمْ أَنَّا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ يُتْلَى عَلَيْهِمْ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَرَحْمَةً وَذِكْرَى لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ} [العنكبوت: 51]
Artinya: “Dan apakah tidak cukup bagi mereka bahwasanya Kami telah menurunkan kepadamu Al Kitab (Al Qur’an) sedang dia dibacakan kepada mereka? Sesungguhnya dalam (Al Qur’an) itu terdapat rahmat yang besar dan pelajaran bagi orang-orang yang beriman”. QS. Al Ankabut: 51.

Dan Firman-Nya:
{وَمَا كُنْتَ تَرْجُو أَنْ يُلْقَى إِلَيْكَ الْكِتَابُ إِلَّا رَحْمَةً مِنْ رَبِّكَ فَلَا تَكُونَنَّ ظَهِيرًا لِلْكَافِرِينَ} [القصص: 86]
Artinya: “Dan kamu tidak pernah mengharap agar Al Qur’an diturunkan kepadamu, tetapi ia (diturunkan) karena suatu rahmat yang besar dari Tuhanmu, sebab itu janganlah sekali-kali kamu menjadi penolong bagi orang-orang kafir”. QS. Al Qashash: 86.

Dan di dalam shahih Muslim disebutkan bahwa Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah pernah ditanya: “Wahai Rasulullah, tidakkah engaku mendoakan keburukan untuk orang-orang musyrik?”, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab:
«إِنِّي لَمْ أُبْعَثْ لَعَّانًا ، وَإِنَّمَا بُعِثْتُ رَحْمَةً» .
Artinya: “Sesunguhnya aku tidak diutus sebagai tukang melaknat, sesungguhnya aku diutus hanya sebagai rahmat”. Lihat Tafsir Adhwa Al Bayan.

Bahkan bersikap lembut sampai kepada Fir’aun sang pengaku tuhan…

Coba perhatikan Firman Allah Ta’ala ketika mengutus Nabi Musa dan Harun ‘alaihissalam kepada Fir’aun:
{ اذْهَبَا إِلَى فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَى (43) فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَيِّنًا لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَى (44)} [طه: 43، 44]
Artinya: “Pergilah kamu berdua kepada Firaun, sesungguhnya dia telah melampaui batas”. “Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut”. QS. Thaha: 43-44.
Dan, memang salah satu sifat Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam dan orang-orang beriman bersamanya adalah saling menyayangi diantara mereka:
{مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ} [الفتح: 29]
Artinya: “Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka”. QS. Al Fath:29.

Dan, memang pesan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada kita adalah agar bersikap lembut penuh kasih sayang, santun…

عن عائشة رضي الله عنها: أنَّ رسول الله صلى الله عليه و سلم قال « يَا عَائِشَةُ إِنَّ اللَّهَ رَفِيقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ فِى الأَمْرِ كُلِّهِ ».
Artinya: “Aisyah radhiyallahu ‘anha meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Wahai Aisyah, sesungguhnya Allah itu Maha Lembut, mencintai yang lembut di dalam seluruh perkara”. HR. Bukhari.

عَنْ عَائِشَةَ رضي الله عنها زَوْجِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « يَا عَائِشَةُ إِنَّ اللَّهَ رَفِيقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ وَيُعْطِى عَلَى الرِّفْقِ مَا لاَ يُعْطِى عَلَى الْعُنْفِ وَمَا لاَ يُعْطِى عَلَى مَا سِوَاهُ ».
Artinya: “Aisyah radhiyallahu ‘anha istri Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Wahai Aisyah, sesungguhnya Allah itu Maha Lembut, mencintai yang lembut, memberi dalam sikap lembut suatu yang tidak diberikan dalam sikap keras dan tidak memberi atas apa yang selain sikap lembut”. HR. Muslim.

عَنْ عَائِشَةَ رضي الله عنها زَوْجِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « إِنَّ الرِّفْقَ لاَ يَكُونُ فِى شَىْءٍ إِلاَّ زَانَهُ وَلاَ يُنْزَعُ مِنْ شَىْءٍ إِلاَّ شَانَهُ ».
Artinya: “Aisyah radhiyallahu ‘anha istri Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya sikap lembut tidaklah ada pada sesuatu kecuali akan menghiasinya dan tidaklah (sikap lembut) dicabut dari sesuatu kecuali akan memburukkannya”. HR. Muslim.

عَنْ جَرِيرٍ رضي الله عنه عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « مَنْ يُحْرَمِ الرِّفْقَ يُحْرَمِ الْخَيْرَ ».
Artinya: “Jarir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang diharamkan dari sikap lembut maka niscaya diharamkan kebaikan (baginya)”. HR. Muslim.

عَنْ أَنَسٍ رضي الله عنه عَنِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ « يَسِّرُوا وَلاَ تُعَسِّرُوا ، وَبَشِّرُوا وَلاَ تُنَفِّرُوا » . البخاري
Artinya: “Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Mudahkan dan jangan dipersulit, berikan kabar gembira dan jangan dibuat lari”. HR. Bukhari.

Bahkan ada orang kencing di masjid dibiarkan sampai selesai untuk menunjukkan kemudahan dan ketidak sulitan…!

أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ قَامَ أَعْرَابِىٌّ فَبَالَ فِى الْمَسْجِدِ فَتَنَاوَلَهُ النَّاسُ ، فَقَالَ لَهُمُ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – « دَعُوهُ وَهَرِيقُوا عَلَى بَوْلِهِ سَجْلاً مِنْ مَاءٍ ، أَوْ ذَنُوبًا مِنْ مَاءٍ ، فَإِنَّمَا بُعِثْتُمْ مُيَسِّرِينَ ، وَلَمْ تُبْعَثُوا مُعَسِّرِينَ » . البخاري
Artinya: “Bahwa Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan: “Seorang A’raby (orang kampung Arab) berdiri dan kencing di masjid, lalu orang-orangpun ingin menghajarnya, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallampun bersabda kepada mereka: “Biarkan dia dan tuangkanlah di atas kencingnya seember dari air, sesungguhnya kalian diutus untuk memberikan kemudahan dan tidak diutus memberikan kesulitan”. HR. Bukhari.

Masih banyak lagi ayat atau hadits yang semisal dengan di atas.

Tapi meskipun dengan semua yang disebutkan di atas… Jangan LUPA!

1. Islam juga agama yang mengajarkan selalu dan wajibnya amar ma’ruf nahi mungkar sebagaimana yang sudah ditentukan caranya oleh Islam.

{كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ} [آل عمران: 110]
Artinya: “Kalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik”. QS. Ali Imran: 110.

Ayat di atas menunjukkan gelar “umat yang terbaik” akan disandang umat ini selama syarat dilaksanakan, yaitu AMAR MA’RUF NAHI MUNGKAR.

{وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ} [آل عمران: 104]
Artinya: “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung”. QS. Ali Imran: 104.

Ayat di atas menunjukkan perintah untuk AMAR MA’RUF NAHI MUNGKAR dan pelakunya, dialah orang yang beruntung.

{ يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَأُولَئِكَ مِنَ الصَّالِحِينَ} [آل عمران: 114]
Artinya: “Mereka beriman kepada Allah dan hari penghabisan mereka menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar dan bersegera kepada (mengerjakan) pelbagai kebajikan; mereka itu termasuk orang-orang yang saleh”. QS. Ali Imran: 114.

Ayat di atas menunjukkan bahwa tanda keimanan dan keshalihan adalah menegakkan AMAR MA’RUF NAHI MUNGKAR.

{وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُولَئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ } [التوبة: 71]
Artinya: “Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang makruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. QS. At Taubah: 71.

Ayat di atas menunjukkan bahwa bentuk pertolongan seorang beriman kepada sesama orang yang beriman adalah menegakkan AMAR MA’RUF NAHI MUNGKAR.

2. Islam juga agama yang mewajibkan untuk mengatakan yang benar itu benar dan yang salah itu salah. Jangan dibalik! Apalagi disebabkan karena posisi di masyarakat, tekanan sosial, takut dijauhi, takut ditinggal jama’ah, takut dimarahi, takut menyalahi arus, atau takut dibenci manusia atau semisal dengan alasan-alasan ini.

Contoh: Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam ketika dimintai sesuatu oleh shahabatnya, yang nota benenya, mereka adalah orang yang sangat butuh untuk disikapi lembut, agar hati mereka teguh di dalam Islam. Tapi karena yang mereka minta adalah perkara yang merupakan sarana kesyirikan, maka beliaupun shallallahu ‘alaihi wasallam menunjukkan sikap yang tegas dan keras dihadapan mereka.
عَنْ أَبِى وَاقِدٍ اللَّيْثِىِّ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لَمَّا خَرَجَ إِلَى خَيْبَرَ مَرَّ بِشَجَرَةٍ لِلْمُشْرِكِينَ يُقَالُ لَهَا ذَاتُ أَنْوَاطٍ يُعَلِّقُونَ عَلَيْهَا أَسْلِحَتَهُمْ فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ اجْعَلْ لَنَا ذَاتَ أَنْوَاطٍ كَمَا لَهُمْ ذَاتُ أَنْوَاطٍ. فَقَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- « سُبْحَانَ اللَّهِ هَذَا كَمَا قَالَ قَوْمُ مُوسَى (اجْعَلْ لَنَا إِلَهًا كَمَا لَهُمْ آلِهَةٌ) وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لَتَرْكَبُنَّ سُنَّةَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ ».
Artinya: “Abu Waqid Al Laitsy radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah pergi ke daerah Khaibar, beliau melewati sebuah pohon milik kaum musyrik, yang disebut pohon Dzatu Anwath, mereka (kaum musyrik) menggantungkan senjata mereka di atasnya, maka para shahabat berkata: “Wahai Rasulullah, buatkanlah untuk kami Dzatu Anwath sebagaimana milik mereka (kaum musyrik)”. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Maha Suci Allah, ucapan ini adalah sebagaimana perkataan kaumnya Musa (اجْعَلْ لَنَا إِلَهًا كَمَا لَهُمْ آلِهَةٌ) (yang artinya: Wahai Musa! Jadikanlah untuk kami sebuah sembahan sebagaiman mereka memiliki sembahan), demi jiwaku yang berada di tangan-Nya, sungguh kalian akan mengikuti kebiasaan orang sebelum kalian”. HR. Tirmidzi dan dishahihkan oleh Al Albani.

Demi Allah, sungguh tidak ada manusia yang paling lembut, santun, kasih sayang selain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, tetapi beliau tetap tegas dan keras ketika hal itu dibutuhkan.

Contoh lain:
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رضي الله عنه أَنَّ رَجُلاً قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا شَاءَ اللَّهُ وَشِئْتَ. فَقَالَ « جَعَلْتَنِى لِلَّهِ عَدْلاً بَلْ مَا شَاءَ اللَّهُ وَحْدَهُ »
Artinya: “Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma meriwayatkan bahwa ada seorang yang berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Sesuai dengan apa yang telah dikehendaki Allah dan anda (Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam)”, lalu Nabi membalas ucapannya: “Kamu telah menjadikanku sejajar dengan Allah, akan tetapi (katakanlah) sesuai dengan Kehendak Allah satu-satu-Nya”. HR. Ahmad dishahihkan oleh Al Albani.

Contoh lain: Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, meskipun beliau berlemah lembut ketika memanggil bapaknya, tetap saja beliau mencegah kemungkaran yang dilakukan bapak beliau:

{يَا أَبَتِ إِنِّي قَدْ جَاءَنِي مِنَ الْعِلْمِ مَا لَمْ يَأْتِكَ فَاتَّبِعْنِي أَهْدِكَ صِرَاطًا سَوِيًّا (43) يَا أَبَتِ لَا تَعْبُدِ الشَّيْطَانَ إِنَّ الشَّيْطَانَ كَانَ لِلرَّحْمَنِ عَصِيًّا (44) يَا أَبَتِ إِنِّي أَخَافُ أَنْ يَمَسَّكَ عَذَابٌ مِنَ الرَّحْمَنِ فَتَكُونَ لِلشَّيْطَانِ وَلِيًّا (45)} [مريم: 43 – 45]
Artinya: “Wahai bapakku, sesungguhnya telah datang kepadaku sebahagian ilmu pengetahuan yang tidak datang kepadamu, maka ikutilah aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus”. “Wahai bapakku, janganlah kamu menyembah setan. Sesungguhnya setan itu durhaka kepada Tuhan Yang Maha Pemurah”. “Wahai bapakku, sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan ditimpa azab dari Tuhan Yang Maha Pemurah, maka kamu menjadi kawan bagi setan”. QS. Maryam: 43-45.

Lihat! bagaimana Nabi Ibrahim ‘alaihissalam tetap memanggil dengan panggilan yang lembut tapi tetap juga AMAR MA’RUF NAHI MUNGKAR.

Pesan yang ingin disampaikan dalam tulisan ini adalah:

1. Janganlah dengan dalih “Islam adalah agama yang lembut, santun dan penuh kasih sayang”, akhirnya membenarkan yang salah atau menyalahkan yang benar.

2. Janganlah dengan dalih “Islam adalah agama yang lembut, santun dan penuh kasih sayang”, akhirnya menyembunyikan kebenaran.

3. Janganlah dengan dalih “Islam adalah agama yang lembut, santun dan penuh kasih sayang”, akhirnya tidak berani mengatakan ini salah, ini kesyirikan, ini bid’ah, ini maksiat dan tidak boleh dikerjakan.

Ingatlah…
عن عائشة رضي الله عنها قالت : قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : « مَنِ الْتَمَسَ رِضَاءَ اللَّهِ بِسَخَطِ النَّاسِ رضي الله عنه وأرضى الناس عنه وَمَنِ الْتَمَسَ رِضَاءَ النَّاسِ بِسَخَطِ اللَّهِ سخط الله عليه وأسخط عليه الناس » رواه ابن حبان
Artinya: “Aisyah radhiyallah ‘anha berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Siapa yang mencari keridhaan Allah dengan kemarahan manusia maka Allah kan meridhainya dan menjadikan manusia ridha kepadanya, dan siapa yang mencari keridhaan manusia dengan kemurkaan Allah maka Allah akan murka kepadanya dan menjadikan manusia murka kepadanya”. HR. Ibnu Hibban dan dishahihkan oleh Al Albani.

Ingatlah…
عَنْ أَبِي ذَرٍّ رضي الله عنه قَال: َقال رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” قُلِ الْحَقَّ، وَإِنْ كَانَ مُرًّا ” .
Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Katakanlah yang benar meskipun hal itu pahit”. Hadits riwayat Ibnu Hibban dan dishahihkan dengan riwayat-riwayat pembantu oleh Al Albani.

Ingatlah…
قال أبو علي الدَّقاق رحمه الله : ( الساكتُ عن الحقِّ شيطان أخرس , والُمتكلِّم بالباطل شيطانٌ ناطق )
Abu Ali Ad Daqqaq rahimahullah (w: 516H) berkata: “Orang yang diam dari kebenaran adalah setan yang bisu, sedang yang berbicara dengan kebatilan adalah setan yang berbicara”. Lihat kitab I’lam Al Muwaqqi’in dan Al Jawab Al Kafi, karya Ibnul Qayyim. wallahu a’lam.
*************************************************************************
Ditulis oleh Ahmad Zainuddin
Dammam KSA, Selasa 10 Rabiuts Tsani 1432H.

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: